Saturday, January 30, 2010

FUNGI PATOGEN

infeksi jamur pada manusia berlangsung melalui sporanya dan dapat dibagi dalam mycosis umum dan mycosis permukaan.

1. mycosis umum (sistemik). pada infeksi umum, jamur atau ragi tersebar di tubuh atau mengakibatkan infeksi dalam organ tubuh, yang kadang-kadang dapat membahayakan jiwa, terutama penderita-penderita yang daya tahan imunnya menurun akibat misalnya infeksi (AIDS) atau yang menggunakan obat-obat yang menekan daya imunitas. contohnya adalah actinomycosis, aspergillosis, dan candidiasis (infeksi candida dari khusus saluran cerna dan alat pernapasan).

2. mycosis permukaan (tinea). infeksi ini yang jauh lebih sering terjadi, terbatas pada kulit, rambut, kuku, dan mukosa. infeksi ini mencakup dermatomikosis, candidiasis vaginal, candidiasis mulut, dan alat cerna. mycosis kulit juga dinamakan tinea (latin= dimakan oleh ngengat, "moth-eaten") disusul dengan lokasinya, misalnya tinea corporis, cruris, capitis, dan pedis, masing-masing berarti infeksi di tubuh, lipat paha, kepala, dan kaki. penyebabnya adalah sering kali fungi berikut ini:

 a. dermatofit (jamur permukaan) dari suku Tricophyton (kulit, rambut, kuku), apidermophyton (kulit, kuku) dan microsporum (kulit, rambut). mikroorganisme ini hidup dilapisan tanduk, kuku, serta rambut dan memiliki enzim yang mampu melarutkan keratin (bagian utama dari jaringan tanduk). infeksi terdiri dari bercak-bercak melingkar ("ringworm") di kulit dengan batas-batas tajam, yang tertutup dengan sisik atau gelembung kecil. dermatofitosis (dermatomikosis) adalah infeksi jamur kronis dari kulit, rambut, dan kuku berdasarkan unsur keratinnya. jamur-jamur ini yang juga dinamakan fungi "ringworm", a.l. mengakibatkan "kutu air", panu, kurap dan kuku kapur.

 b. candida albicans (dahulu disebut menilia)adalah suatu jenis ragi yang sering kali menghinggapu mukosa mulut, bronchia, dan vagina.

 c. pityrosporum ovale, yang berperan pada ketombe dan malessezia furfur, penyebab panu.


beberapa dermatomikosis dan terapinya

di bawah ini diuraikan beberapa jenis dermatomikosis yang paling sering ditemukan dan cara pengobatannya:

1. kutu air (athlete's foot, Tinea pedis).

  kutu air disebabkan oleh jenis Trichofyton dan merupakan dermatomikosis yang paling banyak timbul.

  gejalanya berupa gatal-gatal di antara jari kaki, kemudian terbentuk gelembung yang lalu pecah dan mengeluarkan cairan. kulit menjadi lunak (maserasi) dan terkelupas, hingga membuka peluang bagi infeksi sekunder oleh kuman. penyebarannya melalui penggunaan bersama kamar mandi dan ruang ganti pakaian umum sedangkan sumber infeksinya adalah serpih kulit yang terkelupas. pengobatan dengan krem mikonazol atau ungenta whitfield (benzoat 5%, salisilat 5% dalam lanolin-vaselin ana). untuk kasus-kasus yang sulit dapat digunakan griseofulvin atau ketokonazol per oral.

 2. kuku kapur ('ram's horn nail', onychomycosis)

  kuku kapur bercirikan kuku menebal, mengeras, regas dan mudah patah, berwarna keputih-putihan dan ada kalanya tidak lurus. infeksi ini sering menular dari kuku ke kuku. para lansia lebih sering dihinggapi infeksi jamur ini, terlebih pula bila sirkulasi darah di jari-jari kaki kurang baik. bila seluruh kuku sudah terinfeksi, dokter dapat mencabutnya dan disusul pengobatan dengan terbinafin :oral 1 dd 250 mg. dahulu sering digunakan griseofulvin oral, tetapi pada mikosis kuku jempol kaki tidak begitu ampuh. karena sukar sekali disembuhkan, terapi membutuhkan waktu lama, minimal 6-12 bulan sedangkan infeksi selalu bisa kambuh lagi.

 3. panu (pityriasis versicolor)

  infeksi permukaan ini banyak terjadi di indonesia dan daerah tropik lain. infeksi berupa bercak-bercak putih dan kecoklatan-merah di tengkuk, dada, punggung, dan lengan. terutama hipopigmentasi di muka merupakan suatu masalah kosmetik. penyebabnya adalah malessezia furfur, suatu jamur yang terdiri dari kelompok sel dengan hypen pendek di atas kulit. pengobatan dapat dilakukan dengan mengoleskan bercak-bercak dengan larutan salisilat 5-10% dalam spirtus dil. atau krem mikonazol/ketokonazol selama 2-3 minggu atau terbinafin. untuk kasus-kasus yang resisten dapat digunakan itrakonazol 2dd 100 mg selama 1 minggu. walaupunterapi berhasil, tetapu repigmentasi baru timbul setelah beberapa bulan.

 4. ketombe (dandruff, pityriasis capitis)

  ketombe bercirikan terlepasnya serpih-serpih berlebihan dari kulit kepala yang biasanya disertai gatal-gatal. menurut perkiraan, penyerpihan meningkat disebabkan pleh penghuni normal kulit kepala ini sangat meningkat jumlahnya dan menstimulir pembentukkan lipase. trigliserida dirombak olehnya menjadi asam-asam lemak, yang merangsang kulit dan mengakibatkan hiperproliferasi sel-sel epidermisnya. akibatnya keratosis dilepaskan lebih pesat, keratin mati yang melekat satu pada yang lain, lalu dilepaskan sebagai gumpalan-gumpalan serpih dan tidak berangsur-angsur satu demi satu seperti pada keadaan normal. ketombe umumnya dianggap sebagai bentu ringan dari eczema seboris. tidak diketahui mengapa orangorang tertentu dihinggapi ketombe dan orang lain tidak. sebagai faktor penyebab disebut keadaan sistem imun lemah, yang pada orang peka menimbulkan reaksi kulit abnormal terhadap pityrosporum. selain itu, peningkatan derajat asam dan kadar lemak dari kulit, susunan lemak dan stress turut menyumbang berubahnya fungi tersebut menjadi patogen.

pengobatan dapat dilakukan dengan shampo yang mengandung slensulfida 2,5%, seng-pirithion 2%, dan piroctone olamine (octopirox). pada kasus hebat (eczema seboris), dianjurkan gel ketokonazol 2%. di samping itu juga digunakan zat-zat yang berkhasiat menghambat pembelahan sel (mitosis), misalnya ter (juga berkhasiat antiradang). selensulfida pun berkhasiat antimitosis dan menghalangi keluarnya palit berlebihan dari kelenjdar talg.

5. candidiasis

candida albicans (nama lama: monilia) adalah jamur yang terdiri dari sel-sel oval seperti ragi dan sel-sel yang memanjang sambung-menyambung merupakan hyphae dan disebut pseudomycelium. jamur ini adalah bagian dariflora normal (komensal) selaput lendir di saluran pernapasan, saluran cerna, dan vagina.

a. candidiasis mulut (sariawan). infeksi mulut bergejala luka perih dan bercak-bercak putih pada mukosa mulut serta lidah, yang dapat menjalar ke tenggorok dan oesophagus. ciri lainnya berupa cheilitis (radang di sudut-sudut mulut). infeksi ini sering terjadi akibat penggunaan antibiotika berspektrum luas, kortekosteroida dan sitostatika, selama terapi radiasi, leukimia, dan pada bayi yang baru dilahirkan , juga pada pasien AIDS dengan sistem-imun lemah (CD4+ <300>

pengobatan efektif dapat dilakukan dengan flukonazol oral. pilihan kedua adalah itrakonazaol dan ketokonazol oral dan pilihan ketiga berupa penggunaan lokal (suspensi nystatin, tablet hisap amfoterisin). pada pasien AIDS tidak jarang terjadi resistensi akibat profilaksis jangka panjang anti mikotika. dalam hal ini dosis perlu   dinaikkan atau digunakan kombinasi dari 2 antimikotika (baru). resistensi dapat dicegah dengan pengobatan intermiten (tidak continu).

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home